selalu ada bahagia di balik luka.
"Kalau saja kita masih bersama... Pasti sekarang aku sedang mendengarkan dengkuran kamu dari telepon, ya?
Kalau saja kita masih bersama, pasti aku udah ngeluhin semuanya ke kamu. Semua keluhan yang beberapa bulan belakangan ini tidak bisa aku curahkan kepadamu
Kalau saja kita masih bersama, pasti sedihnya kamu karena ditinggal kucing kesayanganmu itu akan berkurang karena usahaku untuk selalu membuatmu bahagia
Kalau saja kita masih bersama, pasti kita masih tertawa lepas karena lelucon aneh yang sebenarnya tidak lucu-lucu amat
Kalau saja kita masih bersama, pasti setidaknya kita sudah menelusuri beberapa kuliner kesukaanku di Bandung. Iya, mengelilingi Bandung bersamamu!"
Kalau saja...
Kalau...
Kalau...
Kadang aku lupa, perpisahan ini tidak melulu harus menjadi suatu kesedihan yang selalu membuat diri ini terpuruk setiap malamnya.
Selalu saja, aku membayangkan bahagianya jika kita masih bersama.
Padahal, kebahagiaan lainnya dapat aku raih tanpa adanya bayangan dirinya lagi di sini.
Tuhan sudah merencanakan hal-hal terbaiknya, tanpa aku sadari.
Pernah suatu kala aku berdo'a kepada-Nya,
"...kalau memang dirinya bukan yang terbaik, maka jauhkanlah dengan cara terbaikmu juga..."
Tidak lama (tapi tidak juga sebentar setelahnya), dirinya meninggalkanku karena alasan yang mungkin untuk sebagian besar orang cukup membuat geram.
Seminggu setelah gelang (darinya) tidak sengaja 'putus' dari lengan kiriku (seperti sebuah pertanda) dirinya meninggalkanku dan berkata semua hal yang sebenarnya tidak ingin aku dengarkan.
Diriku hancur sehancur-hancurnya.
Rasanya... seperti sebagian dari hidupku sudah ku gantungkan kepadanya, tetapi ia malah membawanya pergi tanpa mengembalikannya padaku.
Sempat ku tidak dapat berpikir jernih, hilang arah dan tak tahu harus berbuat apa, tanpa aku ingat do'a yang pernah aku panjatkan kepada-Nya.
Tetapi, bulan-bulan setelahnya, akalku pun mulai memberontak,
"sampai kapan kamu mau seperti ini?"
Satu sisi lainnya, selalu mengharapkan dirinya kembali.
Bodoh memang.
Mungkin, sampai detik ini aku masih mencoba untuk tidak membawa bayang-bayang dirinya lagi ke dalam kebahagiaan yang aku akan tuju ke depannya.
Tetapi, satu yang aku tahu;
bahagiaku tidak harus selalu bersamanya
aku bisa menciptakan bahagiaku sendiri
dan juga
selalu ada bahagia di balik luka.
02:50, Bandung dini hari.
Semoga kau selalu bahagia.
Kalau saja kita masih bersama, pasti aku udah ngeluhin semuanya ke kamu. Semua keluhan yang beberapa bulan belakangan ini tidak bisa aku curahkan kepadamu
Kalau saja kita masih bersama, pasti sedihnya kamu karena ditinggal kucing kesayanganmu itu akan berkurang karena usahaku untuk selalu membuatmu bahagia
Kalau saja kita masih bersama, pasti kita masih tertawa lepas karena lelucon aneh yang sebenarnya tidak lucu-lucu amat
Kalau saja kita masih bersama, pasti setidaknya kita sudah menelusuri beberapa kuliner kesukaanku di Bandung. Iya, mengelilingi Bandung bersamamu!"
Kalau saja...
Kalau...
Kalau...
Kadang aku lupa, perpisahan ini tidak melulu harus menjadi suatu kesedihan yang selalu membuat diri ini terpuruk setiap malamnya.
Selalu saja, aku membayangkan bahagianya jika kita masih bersama.
Padahal, kebahagiaan lainnya dapat aku raih tanpa adanya bayangan dirinya lagi di sini.
Tuhan sudah merencanakan hal-hal terbaiknya, tanpa aku sadari.
Pernah suatu kala aku berdo'a kepada-Nya,
"...kalau memang dirinya bukan yang terbaik, maka jauhkanlah dengan cara terbaikmu juga..."
Tidak lama (tapi tidak juga sebentar setelahnya), dirinya meninggalkanku karena alasan yang mungkin untuk sebagian besar orang cukup membuat geram.
Seminggu setelah gelang (darinya) tidak sengaja 'putus' dari lengan kiriku (seperti sebuah pertanda) dirinya meninggalkanku dan berkata semua hal yang sebenarnya tidak ingin aku dengarkan.
Diriku hancur sehancur-hancurnya.
Rasanya... seperti sebagian dari hidupku sudah ku gantungkan kepadanya, tetapi ia malah membawanya pergi tanpa mengembalikannya padaku.
Sempat ku tidak dapat berpikir jernih, hilang arah dan tak tahu harus berbuat apa, tanpa aku ingat do'a yang pernah aku panjatkan kepada-Nya.
Tetapi, bulan-bulan setelahnya, akalku pun mulai memberontak,
"sampai kapan kamu mau seperti ini?"
Satu sisi lainnya, selalu mengharapkan dirinya kembali.
Bodoh memang.
Mungkin, sampai detik ini aku masih mencoba untuk tidak membawa bayang-bayang dirinya lagi ke dalam kebahagiaan yang aku akan tuju ke depannya.
Tetapi, satu yang aku tahu;
bahagiaku tidak harus selalu bersamanya
aku bisa menciptakan bahagiaku sendiri
dan juga
selalu ada bahagia di balik luka.
02:50, Bandung dini hari.
Semoga kau selalu bahagia.
Tulisannya bagus
ReplyDelete